Tak Terima Jenazah Istrinya Dimandikan Pria, Seorang Suami Laporkan 4 Petugas Forensik atas Kasus Penistaan Agama thumbnail

KOMPAS.com – Fauzi Munthe, warga Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun melaporkan empat petugas forensik RSUD Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar ke polisi.

Laporan dilakukan karen Fauzi tak terima ketika jenazah istrinya, Zakiah (50) dimandikan oleh 4 pria petugas forensik.

Para petugas forensik tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penistaan agama.

Kasus tersebut berawal ketika Zakiah masuk rumah sakit dan meninggal dunia pada Minggu, 20 September 2020 dengan field pasien suspek Covid-19.

Baca juga: Gara-gara Mandikan Jenazah Wanita, 4 Pria Petugas Forensik Dijerat Kasus Penistaan Agama

Ketika itu jenazah Zakiah dimandikan oleh DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antara mereka berstatus sebagai perawat.

Mekanisme penanganan jenazah tersebut dianggap tak sesuai dengan syariat Islam fardu kifayah. Yakni jenazah wanita dimandikan pria yang bukan muhrim di ruang instalasi jenazah forensik RSUD Djasemen Saragih.

Selain itu, pada 24 Juni 2020, telah diatur prosedur penanganan jenazah Covid-19 khususnya untuk umat Islam yang telah disepakati oleh MUI Kota Pematangsiantar, pihak RSUD Djasamen Saragih, dan Satgas Covid-19.

Laporan dilakukan Fauzi di Polres Pematangsiantar.

Baca juga: Suami Istri Meninggal karena Covid-19, Satu Warga Terpapar Ketika Ikut Mandikan Jenazah

Polisi meminta keterangan dari MUI

ilustrasi meninggal duniaSHUTTERSTOCK/SFM_PHOTO ilustrasi meninggal dunia

Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Edi Sukamto mengatakan kalau empat pria tersebut memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim.

Ia mengatakan, ketika penyelidikan, polisi memina keterangan pengurus MUI Pematangsiantar, Direktur RSUD Djasamen Saragih, dan mendatangkan saksi ahli.

“Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang. Sudah kita panggil MUI, bahwasanya MUI pertanda perbuatan mengenai penistaan agama,” kata Sukamto ketika dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (19/2/2021).

Ia menjelaskan kasus tersebut telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Siantar setelah berkas dinyatakan lengkap oleh jaksa.

Kasus tersebut akan segera dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan.

“Kita hanya mengajukan, jadi itu semua petunjuk jaksa. Ya sudah kita sampaikan,” ucapnya.

Baca juga: Mandikan Jenazah Pasien Covid-19, Seorang Warga Ikut Terpapar

Tak ditahan karena tenaganya masih diperlukan

Ilustrasi tahanan.THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi tahanan.

Empat petugas forensik ditetapkan sebagai tahana kota semenjak Kamis (18/2/2021) sampai 20 hari ke depan.

Penyidik kepolisian tidak melakukan penahanan karena empat tersangka tersebut diperlukan sebagai petugas medis di ruang instalasi jenazah forensik.

Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi mengatakan para tersangkan ialah tenaga khusus untuk menangani jenazah di masa pandemi Covid-19.

“Kita khawatir jika dilakukan penahanan di rumah tahanan akan mengganggu proses berjalannya kegiatan forensik. Di antara memandikan jenazah dan sebagainya. Kita gak mau gara-gara ini kegiatan itu terhenti apalagi sekarang kondisi pandemi,” kata Chadafi di kantor Kejari Pematangsiantar.

Baca juga: Mandikan Jenazah Mertua yang Positif Corona, Ibu Hamil ini Dinyatakan Terpapar Covid-19

Pendampingan hukum oleh PPNI

Ilustrasi hukumShutterstock.com Ilustrasi hukum

Kasus empat petugas forensik tersebut menjadi perhatian rekan sejawat. Pengurus puluhan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) turut hadir mendampingi para tersangka sebagai bentuk solidaritas.

PPNI juga menawarkan pendampingan hukum kepada para tersangka selama proses hukum berjalan.

“Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap menawarkan bantuan hukum sampai proses persidangan,” kata Advokat dari Badan Donasi Hukum PPNI, Muhammad Siban.

Baca juga: Nekat Mandikan Jenazah Pasien Corona ketika Hamil, Ibu Belia Positif Covid-19, Suami Ditahan

Ad interim itu Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani mengimbau perawat di Kota Pematangsiantar tetap bekerja profesional untuk membaktikan diri tanpa membeda bedakan suku agama, golongan dan jenis kelamin.

Ia menyebut ada 1817 perawat di Kota Pematangsiantar dan 750 orang di Kabupaten Simalungun.

“Kami minta perawatan untuk tetap damai jangan terprovokasi, tetap bekerja profesional dan tetap menjaga kerukunan umat beragama,” pungkasnya.

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Teguh Eksklusif | Editor : Aprillia Ika)