Perihal Terusan Kra, Ambisi Thailand yang Mengancam Singapura Halaman all thumbnail

KOMPAS.com – Sebuah kapal bernama Ever Given terjepit di Terusan Suez, Mesir. Tragedi ini membuat arus lalu lintas kapal penghubung perairan Bahari Merah dan Mediterania itu terganggu.

Ever Given ialah kapal sepanjang 400 meter panjangnya melebihi empat lapangan sepak bola, dengan lebar 59 meter dan bobot 200.000 ton.

Kapal berbendera Panama yang dioperasikan oleh Evergreen Marine Corp asal Taiwan ini terjepit dan membuat Terusan Suez macet, menyebabkan lebih dari 300 kapal besar mengantre di kedua sisi. 

Bicara soal terusan atau kanal kapal, di Asia Tenggara sendiri, ada polemik terkait agenda pembangunan Terusan Kra yang hingga ketika ini masih timbul karam.

Baca juga: Bagaimana Ekonomi Timor Leste Setelah 18 Tahun Merdeka dari Indonesia?

Ialah pemerintah Thailand yang berambisi membangun kanal di kawasan Selatan, tepatnya di sebuah celah daratan sempit bernama Genting Kra dekat perbatasan dengan Malaysia.

Genting Kra adalah daratan yang diapit oleh Bahari China Selatan dan Bahari Andaman. Ilham pembuatan terusan ini bahkan sudah ada semenjak ratusan tahun lalu, ketika Raja Thailand ketika itu memerintahkan insinyur Perancis melakukan survei pembangunan kanal.

Gagasan menghubungkan Songkhala di Timur dan Nakhon Si Thammarat di Barat mengemuka setelah Ferdinand de Lesseps sukses membangun Terusan Suez di Mesir pada tahun 1869.

Jadi kontroversi

Dikutip dari Bangkok Post, Senin (29/3/2021), pada tahun ini Dewan Pembangunan Ekonomi Nasional Thailand sudah beberapa kali meminta Perdana Menteri Thailand mempercepat studi kelayakan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pembangunan kanal.

Baca juga: PG Colomadu, Simbol Kekayaan Raja Jawa-Pengusaha Pribumi period Kolonial

Terusan yang dinamakan Thai Canal tersebut akan membelah daratan sepanjang sekitar 120 kilometer. Dengan kanal tersebut, kapal-kapal yang melintasi Bahari China Selatan menuju ke Bahari Andaman tak perlu lagi melewati Selat Malaka.

Selat Malaka sendiri adalah salah satu celah perairan tersibuk di dunia. Meski lautnya dimiliki secara bersama-sama dengan Indonesia dan Malaysia, Singapura ialah negara paling diuntungkan dari kehadiran kapal-kapal di perairan tersebut.

Ketika Thailand dipimpin Perdana Menteri, Thaksin Shinawatra, studi kelayakan sebenarnya sudah disetujui. Namun kemudian realisasi di lapangan dibatalkan setelah pemerintah sipil dikudeta militer Thailand.

Kendala lain pembangunan Terusan Kra di Thailand datang dari para politisi dan pejabat pemerintah Thailand. Mereka yang kontra menganggap, banyaknya titik dangkal di Bahari Andaman dan Teluk Thailand mampu menghambat pembangunan dan lalu lintas kapal nantinya.

Baca juga: Macet di Terusan Suez Sebabkan Ekspor Kayu sampai Nikel RI Terhambat

“Ketinggian air yang berbeda menyebabkan keterbatasan dalam konstruksi. Kanal tersebut dapat dibangun dengan lebar hanya 40-50 meter,” kata Pailin Chuchottaworn, Ketua Komite Pemerintah untuk Pengarahan Ekonomi.

Pailin bilang, besarnya biaya pembangunan terusan tak sebanding dengan manfaat yang didapatkan.

“Selain itu, kanal juga membutuhkan pintu air guna menyesuaikan tinggi permukaan air. Ad interim hanya satu kapal yang boleh melewati kanal dalam satu waktu,” ucap dia.

Pailin lalu membandingkannya dengan Terusan Panama yang memiliki panjang 82 km. Menurutnya, pembangunan kanal di Panama diuntungkan dengan elevasi air serta terdapat danau alami di tengah daratan sehingga mengurangi pekerjaan penggalian.

Baca juga: Bukan BI atau BNI, Ini Bank Pertama yang Didirikan di Indonesia

Danau alami tersebut juga berfungsi sebagai penampungan kapal-kapal, ketika pintu air di ujung pintu masuk dibuka untuk memasukan kapal lain untuk kemudian diangkat.

Kondisi alam ini tak ditemukan di Genting Kra. Jika dibangun, Terusan Kra hanya akan mampu menampung satu kapal saja dalam satu waktu. Hal ini adalah bentuk pemborosan.

Selain itu, Genting Kra juga berbeda dengan Terusan Panama maupun Terusan Suez. Ini lantaran jarak dari Teluk Thailand ke Selat Malaka relatif dekat.

“Menggunakan kanal (Terusan Kra) hanya menghemat waktu dua hari saja (ketimbang lewat Selat Malaka). Itu tidak cukup alasan bagi para pemilik kapal untuk mengubah rute,” jelas Pailin.

Baca juga: Apa Saja Infrastruktur Peninggalan Penjajahan Jepang di Indonesia?

“Aku pikir proyek ini sangat tidak layak, tidak memperkuat daya saing Thailand atau meningkat investasi di Thailand Selatan,” kata dia lagi.

Ketimbang menggali tanah untuk membuat kanal, lanjut Pailin, pihaknya lebih memilih untuk membangun jalur rel kereta api sepanjang 100 kilometer yang menghubungkan dua pelabuhan, yakni di sisi Bahari Andaman dan Teluk Thailand.

Laba Singapura

Selama beberapa dekade, Singapura sangat menikmati kesibukan lalu lintas kapal di Selat Malaka yang jadi penghubung Eropa dan Asia Pasifik.

Selat Malaka menjadi jalur perdagangan terpadat di dunia, menjadi jalur angkutan minimal 11 juta barel minyak per hari melewati selat ini, dari Timur Tengah menuju Asia Timur dan Pasifik, serta 90 ribu kapal setiap tahun. Itu berarti Selat Malaka dilewati sepertiga barang perdagangan dan separuh perdagangan minyak dunia.

Baca juga: Mengapa Pemerintah Hindia Belanda Melaksanakan Tanam Paksa?

Melihat keuntungan diraup Singapura, Malaysia tak mau ketinggalan. Negeri Jiran itu pada tahun 1997 membangun pelabuhan khusus kontainer di Tanjung Pelepas, Johor, untuk mengusik Pelabuhan Singapura.

Malaysia bahkan mengiming-imingi Maersk Lines, perusahaan kontainer terbesar di dunia, untuk mengganti hubnya dari Singapura dan beralih menggunakan Tanjung Pelepas. Perusahaan diberikan banyak keuntungan kalau mau menggunakan pelabuhan baru itu.

Maersk Lines akhirnya setuju dan mulai menggunakan Tanjung Pelepas pada tahun 1999. Dalam waktu cepat, pelabuhan itu eksklusif jadi salah satu pelabuhan tersibuk di Malaysia dan melayani bongkar muat kontainer sampai 1 juta TEUs di awal operasinya. 

Indonesia sendiri tak mau ketinggalan. Pemerintah Indonesia berupaya menjadikan Batam sebagai pesaing Singapura, namun upaya tersebut tak cukup berhasil mirip yang sudah dilakukan Malaysia.

Dari kegagalan Batam, pemerintah Indonesia kini mulai giat membangun Pelabuhan Kuala Tanjung yang digadang-gadang jadi pelabuhan hub yang mampu cukup menyaingi Singapura di masa mendatang.

Baca juga: Gugusan 4 Waduk Terbesar di Indonesia