Mengapa Kondisi Jalan di Indonesia Tak Semulus UEA, Malaysia dan Singapura?

  • Share
Mengapa Kondisi Jalan di Indonesia Tak Semulus UEA, Malaysia dan Singapura? thumbnail
Mengapa Kondisi Jalan di Indonesia Tak Semulus UEA, Malaysia dan Singapura? thumbnail

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi fisik jalan tol dan jalan nasional yang rusak dan berlubang, masih kerap ditemui di sejumlah titik.

Bahkan, ketika trend hujan, jumlah titik kerusakan bertambah, mulai dari aspal mengelupas, sampai lubang membesar mirip kubangan.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo menilai kualitas jalan-jalan di Indonesia kurang baik kualitasnya. 

Hal ini karena, salah satunya kontraktor kurang memahami kondisi sosial budaya masyarakat sekitar sebagai yang akan terjadi studi awal dibuat asal selesai demi target penyelesaian yang dicanangkan oleh Presiden.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Mengabadikan MBZ Jadi Nama Jalan Layang

Satu sisi, taktik tersebut baik supaya Kementerian terkait bekerja cepat memenuhi target.

Tetapi di sisi lain memunculkan banyak persoalan yang pada akhirnya memerlukan anggaran besar ketika beroperasi, baik yang terkait teknis maupun non-teknis.

Kondisi tersebut mengakibatkan kualitas jalan tol yang dibangun kurang baik kualitasnya, mirip cepat berlubang, bergelombang, banyak genangan air saat hujan yang memicu aqua planning, dan sebagainya.

“Sehingga dapat dipastikan bahwa biaya operasi dan perawatan yang dibebankan kepada operator jalan tol mahal,” kata Agus yang dikutip Kompas.com, dari catatannya.

Tak mengherankan kalau membandingkan kualitas dan kondisi fisik jalan di Indonesia dengan negara lain bagai bumi dan langit.

Jalan Tol Cipali Amblas di ruas arah Jakarta (9/2/2021).DOK. PJR Tol Cipali Jalan Tol Cipali Amblas di ruas arah Jakarta (9/2/2021).

Contohnya saja di Malaysia, dan Singapura. Di dua negeri jiran ini, baik jalan tol maupun non-tol dalam kondisi mantap dan mulus.

Apalagi kalau kita bicara Uni Emirat Arab (UEA) yang makin akrab di indera pendengaran kita berkat peran Mohamed Bin Zayed dalam investasi infrastruktur.

Di negeri ini, mungkin mampu disematkan frasa “jalur sutera” saking mulusnya jalan-jalan mulai dari stage jalan arteri, protokol yang strategis, sampai jalan lingkungan.

Pertanyaannya, mengapa kondisi jalan di Indonesia tak semulus UEA, Malaysia, atau Singapura?

Baca juga: Klarifikasi Astra soal Amblesnya Tol Cipali Km 122

Ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (14/04/2021), Staf Pakar Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian Pekerjaan Generik dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ahmad Gani Ghazali mengatakan, ada tiga alasan utama yang menyebabkan banyaknya jalan rusak dan berlubang.

Pertama ialah Indonesia punya trend hujan. Hujan dengan intensitas tinggi akan membuat  jalan berlubang dan rusak.

Untuk mengatasinya, Kementerian PUPR melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah membuat aturan yang mengharuskan pengelola jalan tol memperbaiki titik-titik yang rusak dan berlubang selama 2X24 jam.

“Kami hanya mampu menetapkan bahwa 2X24 jam jalan berlubang itu harus tertutup. Cuma masalahnya, kadang di bagian kiri ditutup tapi kemudian di sebelah kanannya malah berlubang lagi, muncul lagi, jadi otomatis terus menerus mereka harus memperbaikinya, sebenarnya mirip itu kondisinya,” terang Gani.

Faktor kedua ialah buruknya saluran drainase. Gani menuturkan bahwa saluran drainase jalan sudah banyak terpengaruh daerah permukiman, industri dan komersial.

Mereka membuang limbah (apapun) ke saluran drainase. Akibatnya saat hujan turun, terjadi luapan.

Gani mengatakan, secara teoritis sangat mudah mengukur kebutuhan drainse suatu jalan. Caranya dengan menghitung curah hujan kemudian dikalikan dengan luasan jalannya.

Namun, dia mengaku bahwa ketika ini sangat sulit karena harus mengukur luasan dari daerah yang ada di sekitaran jalan tersebut.

“Selain itu, daerah di sekitar jalan nasional dan jalan tol juga tidak terkontrol. Yang bsia mengontrol hanya pemerintah kawasan,” imbuh Gani.

Jalan tol banjir, Jasa Marga siagakan alat penyedot air untuk mengatasi genanganJasa Marga Jalan tol banjir, Jasa Marga siagakan alat penyedot air untuk mengatasi genangan

Kondisi saluran drainase jalan nasional malah lebih rentan, karena banyak yang ditutup oleh pemilik bangunan untuk kepentingan aksesibilitas mereka.

“Misalnya di jalan Pantura, ada SPBU yang menutupi drainase jalan. Pemilik membeton bagian atas. Saat hujan turun, otomatis timbul endapan. Semakin lama bikin mampet, dan airpun meluap,” tutur Gani.

Faktor ketiga ialah kendaraan logistik Over Dimension Over Loading (ODOL).

Baca juga: Daftar Tol yang Masih Tergenang Banjir

Kendaraan dengan beban yang melebihi kapasitas muatan ini selain membahayakan juga berdampak buruk bagi kondisi jalan.

Gani menilai kendarana ODOL yang melalui jalan dengan kontur basah dan tergenang dapat mempercepat usia dan kerusakan jalan.

Kalau dibandingkan dengan Dubai misalnya, tidak akan ditemui kendaraan ODOL yang melintas di ruas-ruas jalan.

Adalah pengendara di sana sadar betul bahwa kalau ingin mengangkut muatan yang berat dan besar otomatis akan beralih pada kendaraan truk kapasitas lebih besar dan dengan sumbu yang lebih banyak.

“Di sana itu ODOL tidak ada, tidak ada truk yang sumbu satu, itu muatannya di atas 8,2 ton, jadi beban sumbunya tidak melebihi dari 8,2 ton,” jelasnya.

Pemotongan ODOL, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi SetiyadiKEMENHUB Mutilasi ODOL, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi

Lebih jauh dia mencontohkan, bahwa setiap kendaraan utamanya truk pengangkut absolut memiliki sumbu roda depan dan belakang.

Umumnya muatan barang itu akan bertumpu pada sumbu roda belakang kendaraan. Semakin banyak muatan yang diangkut otomatis akan semakin membebani sumbu roda tersebut.

Kalau sumbu roda belakang hanya satu sementara muatan yang diangkut melebihi kapasitas akan menambah beban jalan.

“Pehitungan kemampuan perkerasan jalan berdasarkan sumbu yang satu yang paling berat dengan standar 8,2 ton,” kata dia.

Seharusnya, muatan atau kapasitas angkut besar diadaptasi dengan sumbur roda yang juga lebih dari satu.

Dengan begitu berat muatan tidak bertumpu pada satu sumbu saja melainkan dibagi dengan sumbu yang lainnya.

Kendaraan angkutan barang saat melintasi WIM di gerbang tol Cilegon BaratIstimewa Kendaraan angkutan barang ketika melintasi WIM di gerbang tol Cilegon Barat

Jadi jika angkutan logistiks dengan beban 20 ton, maka pembagiannya 30 persen berat bagian depan dan 70 persen berat bagian belakang.

Adalah mesti menggunakan kendaraan dengan sumbu roda yang lebih banyak agar ada pembagian tumpuan antar-papar Gani.

Selain itu, Gani mengakui, ada perbedaan self-discipline topic yang digunakan untuk membangun jalan di Indonesia dan Dubai. Namun, hal itu tidak berpengaruh signifikan.

“Ya kan sebenanrya kita punya standar dalam membuat jalan, sejauh memenuhi standar ya adalah jalan tol kita sama saja, tinggal penyebab yang tadi itu yang mesti diselesaikan,” tuntas Gani.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *