INGIN PERNIKAHAN SESUAI HARAPAN ? LAKUKAN 10 TIPS INI

Setelah beberapa tahun menikah, beberapa pasangan akan mulai mempertanyakan balik beberapa hal. Seperti 'apakah pernikahan seperti ini yang kuinginkan?' atau, 'Inikah pernikahan yang kurencanakan?' dan atau, 'apakah aku senang dengan pernikahan ini?'

Saat menikah, seluruh orang niscaya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang jenisnya tentu tidak sama bagi setiap orang. Ada yang menargetkan hidup dalam pernikahan dimana dia tak lagi memusingkan soal keuangan, atau hidup menggunakan pasangan yg setia meskipun dalam keadaan apapun. Apapun harapan itu, semua selalu bertujuan buat bisa sebagai seorang yg bahagia dan pernikahan merupakan salah satu cara untuk meraihnya secara utuh.

Namun, terkadang asa tidak selalu seindah yang dikhayalkan. Juga tidak semudah dibayangkan. Karena menikah adalah bernegosiasi menggunakan seseorang yang mungkin memiliki disparitas asa dan virtual. Untuk menyatukannya perlu ketika & usaha. Sejujurnya, itu memang nir mudah.

10 Tips Kebahagiaan Suami Istri

"Sepuluh tahun lebih kami menikah, rumah saja belum punya & masih menumpang dalam mertua. Anak kami hanya satu, tapi buat rencana pendidikannya saja kami tidak punya. Ini semua lantaran kami tak punya tabungan dan setiiap bulan hanya mampu memusingkan cara menutup hutang bulan sebelumnya. Dulu sebelum menikah, saya masih mampu membeli barang eksklusif dan bersenang-bahagia. Tapi sekarang, honor yg semakin tinggi dengan rutin pun terasa tak relatif... "

"... Seakan-akan belum relatif derita ini. Tak terbayangkan jikalau pernikahan itu seperti ini. Saya nyaris tak bisa berhenti bekerja dan memikirkan diri sendiri. Tiap hari mengurus tempat tinggal , anak & suami buat menghemat pengeluaran, jangankan makan di luar bersama teman-teman saya, mengunjungi famili saja aku malu. Setiap hari terasa bagai rutinitas membosankan. Boro-boro memikirkan cinta, yang ada hanya bagaimana kami bertahan hidup. Ini bukan pernikahan yg saya inginkan."

Keluhan seperti ini sering dilontarkan teman-sahabat Bunda. Mungkin pada antara pasangan lain, juga terdapat keluhan serupa. Hanya beberapa orang tak bisa mengungkapkannya. Apapun itu, perasaan tidak senang niscaya akan datang waktu pernikahan tak lagi sesuai dengan harapan.

Pernikahan, seperti sebuah perusahaan yang harus dimanajemen dengan baik. Juga seperti sebuah sekolah, dimana penghuninya adalah mereka yg akan selalu belajar dan belajar setiap hari. Dan memang diharapkan planning dan antisipasi terhadap berbagai masalah yang mungkin terjadi.

1. Pondasi tempat tinggal tangga yg utama adalah kepercayaan .

Untuk menjadi media penyatuan, kepercayaan sebagai pondasi krusial sekaligus juga menjadi acum anggaran waktu kedua belah pihak berselisih. Dengan sebagai agama menjadi pondasi primer, semua konvensi akan dapat dicapai. Agama akan menjadi asal yang akan membantu keduanya menemukan cara yg paling sempurna buat mencapai pernikahan yang religius & senang tanpa memberatkan keliru satu pihak.

Dua. Komunikasi adalah hal terpenting dari ke 2 belah pihak.

Agar mampu saling memahami satu sama lain, berkomunikasi adalah pilihan terbaik untuk hal tadi. Inilah sebenarnya inti sebuah pernikahan. Selain menyatukan dua orang pada ikatan resmi, pernikahan merupakan penyatuan dua langsung menggunakan berkomunikasi buat saling tahu satu sama lain.

Tiga. Menyatukan harapan & impian.

Saat baru menikah, semua orang pasti mempunyai asa & cita-cita buat diwujudkan pada kehidupan pernikahannya. Sayangnya, hanya sedikit sekali yang akan mengkomunikasikan hal tadi segera selesainya pernikahan terjadi. Beberapa menentukan memberitahu hasrat tadi sesudah bertahun-tahun bersama. Padahal tujuan pernikahan baru sanggup diwujudkan apabila ke 2 belah pihak yang akan melaluinya saling tahu harapan pasangannya. Karena itu, sekecil & sesederhana apapun cita-cita & asa itu, beritahukan dalam pasangan. Sebaliknya, apabila ada hasrat atau harapan pasangan yg berdasarkan Anda nir sesuai menggunakan hasrat & harapan Anda, maka temukan solusi yang tepat untuk sanggup menaruh keuntungan yg sama bagi ke 2 belah pihak.

4. Kehidupan lajang dan kehidupan mereka yang telah menikah kentara tidak sama.

Jangan pernah membandingkan kedua pengalaman tersebut, lantaran masing-masing pengalaman mempunyai sisi positif dan negatif. Adalah kesalahan akbar jika seorang masih ingin hidup seakan dia masih lajang saat sudah menikah. Menikah berarti kehidupan yg penuh kompromi menggunakan kehidupan orang lain selain diri sendiri, sebagai akibatnya ketika wajib mencari jalan keluar sebuah kasus maka pikirkan pula pasangan & anak yg terlibat pada hidup kita.

Lima. Tak terdapat yg menang & tidak ada yg kalah pada kehidupan pernikahan.

Jangan menduga seorang akan kalah ketika ia mengalah dalam pasangannya atau seseorang menang ketika pasangannya mengalah. Banyak pasangan yg bertahan dan berhasil menjalin pernikahan yang senang saat lebih tak jarang memikirkan kepentingan beserta dibandingkan kepentingannya.

6. Musyawarah buat segala hal dan setuju menggunakan perasaan tulus.

Ketika menjalin hubungan, kita akan belajar perlahan-lahan buat saling berbagi. Namun buat belajar putusan bulat pada beberapa hal, memang sangat sulit. Dalam hal mengatur keuangan contohnya. Ketika A dan B menikah, mereka telah membawa konsep pengaturan keuangan masing-masing. Waktulah yang akan menentukan apakah konsep A atau B yang lebih baik diterapkan. Intinya, apabila sebuah konsep yang disepakati ternyata tidak berhasil meraih harapan maka jangan segan untuk mengubahnya. Misalkan apabila selama ini istri yg biasa mengatur keuangan, tapi lalu beliau tidak sanggup mengklaim soal investasi & tabungan maka mampu saja suami yg mengambil alih manajemen keuangan. Musyawarah wajib diutamakan supaya keduanya mampu menemukan jalan yg paling baik buat keluar dari masalah. Kedua pihak pun wajib tulus menerima fenomena & berusaha untuk belajar berdasarkan kesalahan, namun juga nir menghakimi kesalahan pasangannya secara hiperbola.

7. Menghormati keluarga menurut pasangan.

Walaupun suami atau istri mencintai pasangannya, waktu pasangannya mulai menceritakan kejelekan keluarga menurut pihak suami atau istrinya, pastilah ada perasaan jengkel. Sebisa mungkin hindari pembicaraan tentang anggota keluarga pasangan meski pasangan sendiri sedang kesal pada anggota keluarganya itu. Jadilah seorang yg bijaksana dengan ikut menenangkan atau menaruh penjelasan secara positif agar interaksi kekeluargaan tetap terjaga. Semakin kita berusaha keras buat membantunya membentuk relasi yg baik dengan anggota keluarganya, pasangan akan semakin menghormati kita. Jadi walaupun kesal dengan anggota keluarga pasangan, sebaiknya keluarkan menggunakan kritikan yang santun & membangun. Suatu waktu, bukan tidak mungkin justru pihak famili pasangan yg akan membantu kita mencari jalan keluar apabila terjadi perkara internal tempat tinggal tangga yg rumit.

8. Hilangkan hegemoni berdasarkan pihak manapun.

Untuk menyatukan dua orang saja sudah sulit, maka akan lebih baik jika tidak ada pihak lain seperti mertua atau famili lain yang ikut dalam penyelesaian perkara lantaran umumnya cenderung ada keberpihakan sebagai akibatnya menambah runyam. Tinggal menumpang mertua akan selalu membuat pasangan justru tidak mandiri pada banyak sekali hal. Pasangan yang terbiasa menumpang, umumnya jauh lebih 'cengeng' waktu menghadapi perkara dan sulit mengambil keputusan. Mereka yang terbiasa tinggal pada rumah sendiri, akan selalu belajar menghadapi segala kemungkinan menggunakan rajin mencari berbagai warta. Mulai dari hal-hal remeh hingga hal-hal buat menghadapi situasi yang kritis & berbahaya. Berbagai perkara yg terjadi pun tak jarang lebih gampang diselesaikan lantaran pihak yang terlibat sangat sedikit. Bahkan rumah tangga yang mandiri akan lebih mementingkan kekompakan dibandingkan memperuncing perkara-masalah remeh. Ikatan akan lebih kuat ketika masalah justru dihadapi bersama.

9. Masalah rumah tangga semakin keluar akan semakin besar .

Hal ini masih berhubungan dengan tips sebelumnya. Tapi lebih khusus merupakan kebiasaan buat nir mengumbar perkara. Masalah kesalahpahaman mini mampu berubah sebagai kasus besar , waktu semakin banyak pihak yg terlibat. Kebiasaan mengeluhkan hal-hal mini yg tidak disukai pada pasangan, meskipun dalam orangtua sendiri, sungguh hal yang tidak baik. Selain sanggup menimbulkan kekecewaan pada orangtua lantaran merasa menantunya nir sesuai harapan, ini mampu membahayakan interaksi antara mertua-menantu pada masa depan. Hal lain yaitu mengeluh mengenai kehidupan rumah tangga pada orang yang nir tepat. Artinya bukan mencari penyelesaian, akan tetapi justru memicu perkara semakin besar . Lantaran itu, saat ingin mengeluh, pastikan bahwa keluhan itu berarti menemukan cara buat menuntaskan perkara bukan kebalikannya.

10. Belajar memahami & dipahami.

Meskipun secara garis akbar berkomunikasi berarti jua belajar saling tahu. Namun, berkomunikasi bukan sekedar tentang cara berbicara. Untuk bisa tahu, seorang jua harus belajar membaca segala hal termasuk perilaku tubuh, tatapan mata & mobilitas-gerik eksklusif pasangannya. Sementara agar mudah dipahami, kita jua harus belajar lebih terbuka menunjukkan apa yg ditakuti, makanan yg disukai, aliran drama atau hal-hal yg nir disukai dan sebagainya. Tidak perlu terlalu ekstrim menggunakan penjelasan langsung. Lakukan secara sedikit demi sedikit, juga seimbang menggunakan apa yg wajib kita ketahui mengenai pasangan. Belajarlah buat mengenal indikasi-indikasi atau isyarat-isyarat gerakan tubuh pasangan yg ia tunjukkan ketika menunjukkan sesuatu tanpa istilah. Kelak pemahaman ini akan bermanfaat pada 'berkomunikasi' waktu berada di antara orang selain pasangan.

BANTU SHARE / BAGIKAN ARTIKEL INI SIAPA TAHU BISA BERMANFAAT BUAT YANG LAIN.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

About Author