Arab Saudi: Pengeras Bunyi Masjid Hanya untuk Azan dan Ikamah Halaman all thumbnail

KOMPAS.com – Pemerintah Arab Saudi menerbitkan surat edaran yang menginstruksikan semua pengelola masjid agar hanya menggunakan pengeras bunyi ketika azan dan ikamah.

Dilansir dari Saudi Gazzete, surat edaran tersebut dikeluarkan oleh Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, Sheikh Dr Abullatif Bin Abdulaziz Al-Sheikh, Minggu (23/5/2021).

Suran edaran itu menyebutkan untuk membatasi penggunaan pengeras bunyi hanya untuk azan dan ikamah dan menurunkan quantity pengeras bunyi ke tingkat sepertiga.

Baca juga: Arab Saudi Akan Gelar Lagi Ibadah Haji 2021, Berikut Peraturannya

Dijelaskan, azan ialah azan pertama, sedangkan ikamah ialah azan kedua ketika imam shalat telah mengambil tempatnya menghadap ke arah Kabah dan shalat akan segera dimulai.

Surat edaran tersebut didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Sesungguhnya Anda masing-masing memanggil Tuhannya dengan damai. Yang satu tidak harus merepotkan yang lain dan yang satu tidak harus meninggikan bunyi dalam pelafalan atau dalam doa di atas bunyi yang lain.”

Anggaran tersebut juga didasarkan pada fatwa oleh sebagian besar ulama Islam senior, mirip Sheikh Mohammed bin Saleh Al Othaimeen dan Saleh Al Fawzan, bahwa pengeras bunyi di masjid hanya boleh digunakan untuk azan dan ikamah.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan berita, ilham dan perception di e-mail kau.
Daftarkan e-mail

Alasan pembatasan

Diketahui, surat edaran yang dirilis pada Senin (24/5/2021) oleh kementerian itu terbit setelah memperhatikan bahwa pengeras bunyi eksternal yang digunakan selama shalat dinilai merugikan pasien, orang tua, dan anak-anak yang bermukim di sekitar masjid.

Alasan lainnya, bunyi imam ketika shalat harus didengar oleh semua jemaah yang ada di dalam masjid. Menurut syariat Islam, tidak perlu bunyi imam terdengar ke rumah-rumah di luar masjid.

Selain itu, ada kekhawatiran pengeras bunyi eksternal ini menimbulkan penghinaan terhadap Al Quran.

Penghinaan itu dapat terjadi ketika Al Quran dibacakan dengan pengeras bunyi eksternal, tetapi tidak ada orang yang mendengarkan dan merenungkan ayat-ayatnya.

Baca juga: Beredar Berita Kuota Haji 2021, Ini Kata Dubes RI dan Kemenag

Dikeluarkannya surat edaran tersebut juga didasarkan pada bukti dari syariat, di mana yang terpenting ialah semua jemaah berdoa dan memohon kepada Allah SWT, sehingga mereka tidak boleh merugikan atau menyebabkan ketidaknyamanan satu sama lain dengan bacaan keras selama shalat.

Tindakan ini juga adalah implementasi dari prinsip yurisprudensial (fikih) yang berbunyi, “Jangan merugikan orang lain, dan orang lain juga tidak boleh merugikan Anda.”

Masjid-masjid di Arab Saudi

Selain itu, penggunaan pengeras bunyi dinilai menghina terhadap Al Quran yakni saat dibacakan dengan keras menggunakan pengeras bunyi eksternal, padahal tidak ada yang mendengarkan dan merenungkan ayat-ayatnya.

Surat edaran ini juga sesuai dengan fatwa ulama almarhum Sheikh Muhammad Bin Saleh Al-Othaimeen bahwa pengeras bunyi eksternal tidak boleh digunakan kecuali untuk azan dan ikamah.

Adapun terbitnya surat edaran itu juga berdasarkan fatwa anggota Majelis Ulama Senior dan anggota Panitia Tetap Dr Saleh Al-Fowzan, serta beberapa ulama lainnya.

Dilansir dari Gulf, Arab Saudi memiliki lebih dari 98.800 masjid, termasuk masjid paling penting dalam Islam, Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Pada 2018, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman meluncurkan proyek untuk merenovasi lebih dari 130 masjid bersejarah di kerajaan.

Beberapa masjid penting sedang direnovasi di seluruh negeri, termasuk yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Baca juga: Ustaz Tengku Zulkarnain Meninggal karena Covid-19 di Pekanbaru, Berpulang Ketika Azan Maghrib