Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Boeing 727 Alaska Airways Jatuh Menabrak Gunung, 111 Tewas Halaman all

  • Share
Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Boeing 727 Alaska Airways Jatuh Menabrak Gunung, 111 Tewas Halaman all thumbnail
Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Boeing 727 Alaska Airways Jatuh Menabrak Gunung, 111 Tewas Halaman all thumbnail

KOMPAS.com – Sebuah pesawat dari maskapai Alaska Airways dengan nomor penerbangan 1866 menabrak lereng gunung ketika mendekati Bandara Internasional Juneau, Alaska, 4 September 1971, tepatnya 50 tahun lalu. 

Dikutip dari The Novel York Conditions, (5/9/1971), insiden kecelakaan itu menewaskan 111 penumpang. 

Pesawat awalnya dalam perjalanan dari Achorage ke Seattle melalui Cordova, Yakutat, Juneau, dan Sitka, sebelum akhirnya terjadi kecelakaan mendekati Bandara Juneau. 

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Sriwijaya Air Tabrak 3 Orang Petani Sayur di Jambi

#OTD in 1971: Alaska Airways Flight 1866, a Boeing 727, crashes in Alaska (US) all 111 aboard die. Jet was on contrivance when it impacted the Chilkat fluctuate. Thunder pointed lots of concerns on the route followed, including “misleading navigational data of undetermined foundation”. pic.twitter.com/smYcXrLRsP

— Air Mess ups #OTD by Francisco Cunha (@OnDisasters) September 3, 2020

#OTD in 1971, Alaska Airways Flight 1866 crashes into a mountain in Haines Borough, Alaska. Killing all 111. pic.twitter.com/VaZrIUYyqy

— Air Mess ups (@AirCrashMayday) September 4, 2016

Dugaan penyebab kecelakaan

Selain karena faktor cuaca yang buruk, pada ketika kejadian pilot diduga mendapatkan berita lokasi yang salah dan terbang terlalu rendah ketika melewati pegunungan terakhir di bagian selatan Teluk Gletser ketika mendekati Juneau.

Dapatkan berita, ilham dan insight di electronic mail kau.
Daftarkan electronic mail

Dari laporan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS, tidak mencantumkan alasan spesifik penyebab pesawat memiliki berita yang salah.

Ini menyiratkan bahwa anggota kru mungkin salah membaca berita kokpit atau secara tidak sengaja memutar nomor penerima yang salah.

Tragedi ini pun dinilai sebagai bencana udara terburuk di Alaska.

“Nir ada yang selamat,” ujar Wakil Komisaris Keamanan Publik Alaska ketika itu, James P. Wellington.

Ia mengatakan, pesawat itu pecah berkeping-keping tetapi tidak terbakar ketika jatuh di ketinggian 2.500 kaki di Pegunungan Chilkoot di Hutan Nasional Tongass.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Korean Air Jatuh Ditembak Sukhoi di Bahari Jepang, 269 Tewas

Jam terbang pilot

Menurut pemberitaan Juneau Empire, (3/9/2016), pesawat Alaska Air Traces lepas landas dari Anchorage di bawah komando kru berpengalaman yang dipimpin oleh Dick Adams (41), seorang pilot dengan waktu terbang hampir 14.000 jam.

Adams telah bersama Alaska selama lebih dari 16 tahun dan adalah salah satu pilot maskapai yang lebih berpengalaman.

Ia bergabung di kokpit oleh dua awak berpengalaman lainnya dengan pelatihan yang cukup di Boeing 727 yang mereka terbangkan.

Ketika itu, penumpang pesawat sebagian besar berasal dari Alaska. Setiap lapisan masyarakat, kelompok umur, dan strata ekonomi menaiki pesawat ini.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Arkeolog Temukan Machu Picchu 24 Juli 1911

Cuaca buruk

Di sisi lain, pada ketika  kejadian di kawasan pegunungan cuaca dapat sangat bervariasi dari satu sisi gunung ke sisi lainnya.

Cuaca ketika itu sedang buruk, muncul awan tebal dan kabut yang memaksa Adams dan krunya untuk mendarat menggunakan instrumen alih-alih mengintip dari jendela kokpit mereka.

Pegunungan di sekitar Juneau menghalangi penggunaan pendekatan instrumen commonplace, tetapi Administrasi Penerbangan Federal telah lama mengoperasikan bantuan navigasi yang disebut suar “VHF omni-directional fluctuate” (VOR).

Suar ini, yang terletak di Pulau Sisters di Selat Chilly, mengirimkan sinar radio di sepanjang jalur yang ditentukan.

Alat ini seharusnya menjadi tengara yang dapat dipercaya saat awan keruh mengganggu navigasi.

Namun, pada hari itu, sinar Pulau Sisters tidak dapat dipercaya, tidak diketahui siapa pun, hampir 45 derajat dari arah yang benar.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Japan Airways Jatuh, 520 Orang Tewas

Upaya evakuasi

Kecelakaan terjadi pada Sabtu, 4 September 1971. Charlie Smith dari Departemen Keamanan Publik Alaska mengatakan, bongkahan pesawat tidak ditemukan hingga helikopter sewaan dengan Alaska Advise Trooper dan pilot Alaska Airways menemukannya sekitar pukul 16.30 waktu setempat.

Pasukan tiba dengan helikopter malam itu untuk mengamankan kawasan kejadian dan mencari korban.

Petugas datang keesokan harinya di antaranya Flit Guard Sweetbriar dan mulai melakukan evakuasi. 

Diharapkan waktu lebih dari seminggu untuk mengumpulkan jenazah dan hampir sebulan lebih untuk mengidentifikasi para korban.

Baca juga: Syarat dan Cara Menukar Uang Logam sampai Rp 750.000

Black field pesawat

Dari rekaman “dark field”, kokpit pesawat dan rekaman kontrol diketahui tidak ada kendala kerusakan pada pesawat atau awak pada ketika kejadian. Pilot percaya diri mereka berada jauh di timur pegunungan.

Akibat dari kejadian tersebut, pada akhir tahun 1971, Federal Aviation Administration (FFA) atau Administrasi Penerbangan Federal memasang peralatan pengukur jarak di Pulau Sisters yang akan memberi pilot Penerbangan 1866 perlindungan terhadap bencana dan mungkin dapat mencegahnya.

Mereka juga mengamanatkan standar baru untuk pesawat yang terbang ke bandara Juneau, yang harus terbang dengan pendekatan yang lebih curam dan berpegang pada standar cuaca yang lebih ketat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *